News Update :

Senin, 21 Januari 2013

Mari Membaca


Oleh: T.Noval Ariandi

Iqra’/bacalah merupakan ayat Al Qur’an yang pertama di turunkan oleh Allah SWT pada Nabi kita Muhammad SAW, membaca begitu sangat penting hingga Allah menurunkan surat Al-Alaq, seruan Allah menyuruh kita membaca agar kita berilmu, dengan membaca kita banyak pengetahuan, membaca juga merupakan investasi kita untuk masa depan, baik untuk menghadapi kehidupan sosial maupun dari segi akhlak. Dengan berilmu pula kita bisa memberi manfaat dan kontribusi yang baik kepada orang lain. Membaca tidak hanya terfokus pada tulisan-tulisan pengarang buku saja melainkan mampu membaca secara keseluruhan baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam, serta mampu mengasah kepekaan agar siap dalam menghadapi segala kejadian yang ada terutama kejadian yang ada di sekitar lingkungan kita.
Amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan khususnya yang berkaitan dengan Pembudayaan Kegemaran Membaca. Dalam ketentuan Umum Bab I pasal 3 dan 4: Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Cukup jelas dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 ini mengajak kita untuk meningkatkan minat baca serta meningkatkan SDM bangsa yang lebih berkompeten dan Kompetitif. Dalam undang-undang tersebut bangsa Indonesia di ajak untuk memenuhi perpustakaan-perpustakaan yang telah di bentuk oleh pemerintah di segala penjuru Negara Ini. Dari mulai Pemerintah pusat hingga pemerintah Desa. Namun hal hasil beberapa Survey minat baca di Indonesia menurun. Pertama; Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam seminar “Libraries and Democracy”  digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf. (Kompas, 2009/06/18). Kedua; Berdasarkan  studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan,” ujar Ketua Center for Social Marketing (CSM), Yanti Sugarda di Jakarta. Rabu (7/7). Ketiga; Penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009. Sedangkan untuk Aceh mendapat 112 dari 117 yang di teliti.
Ada banyak faktor yang menjadi sebab masyarakat tidak mencintai buku diantaranya; Banyaknya hiburan TV dan permainan Game Online di warnet maupun di rumah-rumah yang tidak terkontrol oleh masing-masing orang tuanya. Semestinya dengaan adanya Internet membawa dampak yang baik terahadap minat baca masyarakat kita. karena internet merupakan sarana visual yang dengan mudah mendapat informasi abtudate, tetapi karna kurangnya pantauan orang tua terhadap anak hingga menyalahgunakan internet.
Peran Orang Tua dalam meningkatkan minat baca
Untuk mensiasati supaya masyarakat kita menjadikan buku sebagai teman akrabnya sehari-hari, maka di mulai dari orang tua, yang mana orang tua mesti mengajak anak-anaknya mulai dari balita untuk mengenal buku walau buku tersebut hanya di penuhi gambar-gambar, tidak menjadi hal bagi pemula balita dan usia dini. Caranya bermacam-macam salah satu penulis ingin mengambil contoh yang sangat mudah di lakukan oleh orang tua untuk mengajak dan melatih anaknya dalam mengenal buku. Saat ingin meninabobokan si anak alangkah baiknya orang tua memberikan buku fiksi kepada anak sambil menceritakannya sampai ia terlelep tertidur dan esoknya juga harus dilakukan berulang-ulang dengan harapan akan terbentuk kepribadian yang kuat hingga memahami isi buku. Penulis yakin bila setiap orang tua mencoba ini di rumahnya barang tentu si anak akan meminta orang tuanya untuk melanjutkan lagi cerita yang ada di dalam buku fiksi yang berikan kepadanya. Jalan ini menurut saya saat perlu di lakukan oleh orang tua dalam mendidik anak agar mau membaca dan mengenal buku. dan bercerita terhadap buku yang dibacanya, serta menjadikan buku sebagai sumber ilmu bukan hanya sekedar hobi.
Peran Pemerintah dalam menumbuhkan minat baca
Peranan pemerintah daerah dibantu oleh kalangan dunia pendidikan, media masa, gerakan masyarakat cinta buku untuk  bersama-sama merangkul pihak-pihak swasta yang mempunyai kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa untuk mensponsori pendirian perpustakaan-perpustakaan kecil dilingkungan masyarakat seperti desa/kampung dengan bantuan berupa sarana dan prasarana dan koleksi perpustakaan yang pengelolaannya diserahkan kepada Ibu-Ibu PKK atau Karang Taruna.   Supaya gebyarnya lebih meluas  perlu diadakan lomba yang bisa di ekspos oleh media massa lokal maupun  nasional dengan iming-iming berupa hadiah yang menarik sebagaimana  lomba green and clean di Surabaya, dan ini harus dilakukan secara continue setiap tahunnya.(Setiawan Hartadi, Pustakawan STIE Perbanas Surabaya).
Kalau di cermati sebenarnya untuk meningkatkan dan menciptakan minat baca masyarakat Indonesia khususnya Prov. Aceh mesti mengajak semua elemen baik dari kalangan Swasta, Penerbit buku, Pegarang Buku, Pustakawan, Guru, Dosen, Kepala Desa, Orang Tua dll. Untuk memikirkan bagaimana mengajak dan mendirikan Perpustakaan agar rakyat Indonesia menjadikan buku sebagai temannya. Setiap eleman mengajak anggotanya untuk mangunjungi perpustakaan, misalnya Dosen/Guru mengajak dan membuat jam khusus untuk mengunjungi perpustakaan yang di tegaskan dengan Absen berlaku di perpustakaan, kepala desa membuka perpustakaan tidak hanya di kantornya, inisiatif yang bagus kepala desa membuka perpustakaan di pekarangan masjid atau tempat ibadah lainnya, buku dapat di sesuaikan dengan tempatnya. Bila inisiatif ini tumbuh dari semua elemen demi mencerdaskan masyarakat dengan meramaikan perpustakaan dan menjadikan buku sebagai temannya penulis yakin minat baca bangsa Indonesia meningkat dan menurunkan peningkatan rangking kepedulian masyarakat dalam membaca sesuai hasil beberapa lembaga survey lakukan. 
*T. Noval Ariandi, Bekerja di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Lhokseumawe.
Email: tnovalariandi@muslim.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

© Copyright Noval Ariandi 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.