Iqra’/bacalah merupakan ayat Al Qur’an yang pertama di
turunkan oleh Allah SWT pada Nabi kita Muhammad SAW, membaca begitu sangat
penting hingga Allah menurunkan surat Al-Alaq, seruan Allah menyuruh kita
membaca agar kita berilmu, dengan membaca kita banyak pengetahuan, membaca juga
merupakan investasi kita untuk masa depan, baik untuk menghadapi kehidupan sosial
maupun dari segi akhlak. Dengan berilmu pula kita bisa memberi manfaat dan
kontribusi yang baik kepada orang lain. Membaca tidak hanya terfokus pada
tulisan-tulisan pengarang buku saja melainkan mampu membaca secara keseluruhan
baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam, serta mampu mengasah kepekaan
agar siap dalam menghadapi segala kejadian yang ada terutama kejadian yang ada
di sekitar lingkungan kita.
Amanat Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan
khususnya yang berkaitan dengan Pembudayaan Kegemaran Membaca. Dalam ketentuan
Umum Bab I pasal 3 dan 4: Perpustakaan
berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan
kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Perpustakaan bertujuan memberikan layanan
kepada pemustaka,
meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa. Cukup jelas dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 ini
mengajak kita untuk meningkatkan minat baca serta meningkatkan SDM bangsa yang
lebih berkompeten dan Kompetitif. Dalam undang-undang tersebut bangsa Indonesia
di ajak untuk memenuhi perpustakaan-perpustakaan yang telah di bentuk oleh
pemerintah di segala penjuru Negara Ini. Dari mulai Pemerintah pusat hingga
pemerintah Desa. Namun hal hasil beberapa Survey minat baca di Indonesia
menurun. Pertama; Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi
terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir
Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan
Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam seminar “Libraries and
Democracy” digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya
bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan
Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga
mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf. (Kompas,
2009/06/18). Kedua; Berdasarkan
studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading
Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar
(SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan
sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko,
dan Afrika Selatan,” ujar Ketua Center for Social Marketing (CSM), Yanti
Sugarda di Jakarta. Rabu (7/7). Ketiga; Penelitian
Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada
2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut
kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009. Sedangkan untuk Aceh
mendapat 112 dari 117 yang di teliti.
Ada banyak faktor
yang menjadi sebab masyarakat tidak mencintai buku diantaranya; Banyaknya
hiburan TV dan permainan Game Online di warnet maupun di rumah-rumah yang tidak
terkontrol oleh masing-masing orang tuanya. Semestinya dengaan adanya Internet
membawa dampak yang baik terahadap minat baca masyarakat kita. karena internet
merupakan sarana visual yang dengan mudah mendapat informasi abtudate, tetapi
karna kurangnya pantauan orang tua terhadap anak hingga menyalahgunakan
internet.
Peran Orang
Tua dalam meningkatkan minat baca
Untuk mensiasati supaya masyarakat kita menjadikan buku sebagai teman
akrabnya sehari-hari, maka di mulai dari orang tua, yang mana orang tua mesti
mengajak anak-anaknya mulai dari balita untuk mengenal buku walau buku tersebut
hanya di penuhi gambar-gambar, tidak menjadi hal bagi pemula balita dan usia
dini. Caranya bermacam-macam salah satu penulis ingin mengambil contoh yang
sangat mudah di lakukan oleh orang tua untuk mengajak dan melatih anaknya dalam
mengenal buku. Saat ingin meninabobokan si anak alangkah baiknya orang tua
memberikan buku fiksi kepada anak sambil menceritakannya sampai ia terlelep tertidur
dan esoknya juga harus dilakukan berulang-ulang dengan harapan akan terbentuk
kepribadian yang kuat hingga memahami isi buku. Penulis yakin bila setiap orang
tua mencoba ini di rumahnya barang tentu si anak akan meminta orang tuanya
untuk melanjutkan lagi cerita yang ada di dalam buku fiksi yang berikan
kepadanya. Jalan ini menurut saya saat perlu di lakukan oleh orang tua dalam
mendidik anak agar mau membaca dan mengenal buku. dan bercerita terhadap buku
yang dibacanya, serta menjadikan buku sebagai sumber ilmu bukan hanya sekedar
hobi.
Peran
Pemerintah dalam menumbuhkan minat baca
Peranan pemerintah daerah dibantu oleh kalangan dunia pendidikan, media
masa, gerakan masyarakat cinta buku untuk bersama-sama merangkul
pihak-pihak swasta yang mempunyai kepentingan dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa untuk mensponsori pendirian perpustakaan-perpustakaan kecil dilingkungan
masyarakat seperti desa/kampung dengan bantuan berupa sarana dan prasarana dan
koleksi perpustakaan yang pengelolaannya diserahkan kepada Ibu-Ibu PKK atau
Karang Taruna. Supaya gebyarnya lebih meluas perlu
diadakan lomba yang bisa di ekspos oleh media massa lokal
maupun nasional dengan iming-iming berupa hadiah yang menarik
sebagaimana lomba green and clean di Surabaya, dan ini harus
dilakukan secara continue setiap tahunnya.(Setiawan Hartadi,
Pustakawan STIE Perbanas Surabaya).
Kalau di cermati sebenarnya untuk
meningkatkan dan menciptakan minat baca masyarakat Indonesia khususnya Prov. Aceh
mesti mengajak semua elemen baik dari kalangan Swasta, Penerbit buku, Pegarang
Buku, Pustakawan, Guru, Dosen, Kepala Desa, Orang Tua dll. Untuk memikirkan
bagaimana mengajak dan mendirikan Perpustakaan agar rakyat Indonesia menjadikan
buku sebagai temannya. Setiap eleman mengajak anggotanya untuk mangunjungi
perpustakaan, misalnya Dosen/Guru mengajak dan membuat jam khusus untuk
mengunjungi perpustakaan yang di tegaskan dengan Absen berlaku di perpustakaan,
kepala desa membuka perpustakaan tidak hanya di kantornya, inisiatif yang bagus
kepala desa membuka perpustakaan di pekarangan masjid atau tempat ibadah
lainnya, buku dapat di sesuaikan dengan tempatnya. Bila inisiatif ini tumbuh
dari semua elemen demi mencerdaskan masyarakat dengan meramaikan perpustakaan
dan menjadikan buku sebagai temannya penulis yakin minat baca bangsa Indonesia
meningkat dan menurunkan peningkatan rangking kepedulian masyarakat dalam membaca
sesuai hasil beberapa lembaga survey lakukan.
*T.
Noval Ariandi, Bekerja di Kantor Perpustakaan dan Arsip Kota Lhokseumawe.
Email:
tnovalariandi@muslim.com




Tidak ada komentar:
Posting Komentar